The Hobbit: The Battle of the Five Armies

Rambutnya Legolas, masih kayak David Beckham waktu masih main di Real Madrid. The Defining Chapter, indeed. A review, no spoiler.

Gue suka film kolosal, apalagi fantasi dan trilogi. The Matrix, Star Wars (the first three, yes), sampe Lord of the Rings. The Hobbit memang disetup sebagai prequel dari Lord of the Rings. Setelah episode 2, the Desolation of Smaug, udah pasti semua fans nungguin satu episode yang paripurna, yang pol, yang nutup, terutama yang “nyambungin” The Hobbit sama Lord of the Rings. Ibaratnya kayak jawaban dari gebetan yang udah “ditembak” berbulan-bulan yang lalu, terus digantungin (ngeselin iyeh).

Dari segi cerita, The Battle of the Five Armies melebihi ekspektasi. Ceritanya sih simpel yak, terpampang jelas di sub judul episode, peperangan antara 5 pasukan. Bayangin lo berada di tahun 90-an, terus elo berada di satu ruangan bersama anak STM, PSKD, 70, 6 dan Boedoet. Tegang. Banyak action-nya. Agak sedikit bikin gue kangen nonton Braveheart sih dari segi peperangannya.

Lonely-Mountain_990x385

Terlepas dari CGI yang keliatan di sana sini (ya kali bisa bikin pasukan Orc tanpa pake CGI, atau ngarepin Legolas bisa selincah anak kecil abis makan sekantong permen), episode ini gak bosenin, dan gak terlalu berasa dragging. Belom nonton 2 episode sebelumnya? ada baiknya nonton dulu, paling gak yang episode ke-2 mumpung masih sering diputer di HBO.

Just a reminder, yang main jadi Bilbo Baggins itu yang main jadi John Watson di serial tv UK “Sherlock”. Dan yang ngisi suara Smaug the dragon, tidak lain adalah Benedict Cumberbatch, yep si Sherlock.

Shorter words; good action, well-balanced humour, chapter defining, great trilogy closure.

Jadi kepingin nonton Lord of the Rings lagi.
I am, Andirdor, son of Dumin. (iye, obat panas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *