New York, New York. On saddle.

“These vagabond shoes, are longing to stray
Right through the very heart of it, New York, New York”

Mendengarkan lagu Frank Sinatra “New York, New York” ketika pesawat mau mendarat di JFK. Semacam list di dalam bucket list gue yang harus dituntaskan. Karena gue inget banget, almarhum bokap pernah cerita kalo dia

pernah dengerin lagu tersebut, ketika mandangin New York dari New Jersey berpuluh tahun yang lalu. That one was for you pa.

Ini bukan kali pertama gue ke New York, dulu waktu kecil pernah “numpang lewat” semalem, itupun masih kecil. Belom ngerti “megahnya” New York. Taunya cuma tempat-tempat yang gue baca di buku; Statue of Liberty, Empire State Building, World Trade Center (dulu masih ada), sampe Central Park.

9400641038_31d933bb6e_k

10 September 2012, sehari sebelum peringatan 9/11 (bukan boy band ya, tapi serangan teroris), umur gue 32 tahun, married but travelling by myself, semi business trip, akhirnya gue kembali ke kota itu. Ngantri imigrasi pun jadi momen yang menegangkan, karena penjagaan lagi ekstra ketat (due to 9/11).

Udah travelling 20 jam, jauh-jauh, gak boleh masuk Amerika. Ya kali.

Imigrasi? lewat begitu aja, tanpa tanya ini itu. Mungkin karena gue bawa undangan untuk ke Interbike 2012, exhibition sepeda tahunan (which was in Las Vegas anyway), gue bilang harus lewat sebentar di New York. Sebentar dalam artian cuma 3 hari 2 malam. Kenapa cuma sebentar? Karena dalam 11 hari (ijin dari siaran), gue harus muterin New York, Los Angeles, Las Vegas, dan San Fransisco. Yaa, namanya juga pegawai yak, dikasih ijin segitu aja udah sukur.

“Interbike-nya kan di Las Vegas, ndir?” mungkin ada yang bertanya begitu. Jawabannya ada 2; yang pertama “mumpung ke Amerika dan ada yang diinepin”, yang kedua..

Ke New York mau ngambil frame sepeda

Singkat cerita, gue beli frame idaman gue “Cannondale Track 1992” sama Angelo Calilap, dan dia gak mau kirim ke Indonesia. Akhirnya dititipin di rumah temen kakak gue yang kerja di New York (yang rumahnya gue inepin).

8329878898_ad6808c6ac_k8328854285_c3afbdc204_k

Dari airport JFK, gue mesti ke daerah Forest Hills, rumah dinas temennya kakak gue. Forrest Hills itu katanya daerah orang berada, mesti ngelewatin Queens, tempat gedenya Vincent Chase dan Entourage-nya. Dari airport naik Taksi lah ya, karena bawaan gue cukup oversized: satu koper cabin, satu backpack gede, dan satu tas sepeda (isinya parts sepeda, kecuali frame). Keluar pintu airport langsung dikerubungin supir taksi, ternyata taksi gelap, “$70 to Forrest Hills” katanya, berasa ditipu. Gue inget kata temen kakak gue “ambil yellow cab aja, jalan dikit, cari ford escape”. Dapet, eh cuma $30 doang kalo gak salah.

8328851505_c2d07e3c7a_k

Hari pertama nyampe’nya udah siang. Sampe depan pintu rumah cuma ada tulisan “Kamar lo yang di atas, ini peta subway, password wifi. Gue balik jam 10 malem. Kalo bingung naik taksi aja”. Taro tas, mandi, nyari si frame sepeda di dalem rumah, ketemu, terus gue cabut jalan-jalan naik subway. Tiba-tiba keinget lagunya J-Lo, dari album pertamanya, Jenny from the block. Waktu jaman-jamannya dia bikin lagu tentang naik subway. Kalo dipikir-pikir cupu juga ya, ibaratnya gue naik commuterline, terus gue bikin lagu soal naik kereta dari Pondok Ranji ke stasiun Tanah Abang, tiap hari, tiap pagi, buat siaran.

New York udah beda dari yang gue inget. Dengan komposisi jalan dan gedung yang sangat rapi barisnya, tapi masih lebih rapi barisan tentara Korea Utara. Hari pertama, karena gue on foot, gue cuma jalan-jalan ke 5th avenue, menuntaskan ibadah fanboy, ngeliat Apple Store on 5th, kecewa, karena ternyata glass house entrance-nya lagi di renovasi. Jajan di Central Park sedikit. Terus naik subway lagi ke Time Square. I must say, I really love travelling on my own pace, seeing my own interests, tanpa harus ikutan tur. Tapi kok ada yang kurang ya, New York keren sih, tapi kok gini aja ya. Mulai mellow, nyesel gak ambil tur aja. Apa gue naik sepeda aja ya besok? ya repot banget sih ndir, lo ngerakit sepeda cuma buat dipake sehari. Jam 11 malem, karena badan masih cape (tambah excited), gue balik ke rumah.

“Kok udah pulang? Baru juga jam 12” kata temen kakak gue.

Anjirrr bener juga, rugi amat gue pulang jam segitu. Tenang ndir, masih ada besok.

Hari kedua, ditinggal kerja. Itinerary yang udah gue susun di google map sudah menanti. Sialnya, simcard yang gue beli, ternyata internetnya limited. Semua peta gue screen capture. Pas mau keluar rumah, gue kepikiran,

Apa gue keliling New York naik sepeda aja ya?

Sambil whtasappan sama @cyclonesia, gue makin yakin untuk ngerakit sepeda walau cuma untuk dipake sehari (karena kebesokan pagi gue mesti terbang ke Los Angeles). “Kapan lagi sepedaan di New York”. Terima kasih Ippe, akhirnya gue keluarin semua parts sepeda dari dalem tas, tools, pompa dan lainnya. Akhirnya gue rakit itu sepeda, khusus cuma buat dipake hari itu aja. Dari rumah ke Central Park (tengah kota) cuma berjarak 14km, tapi rasanya jauh lebih deket. I was exploring the city, in my own way, on my own bike! The greatest feeling of all! Rasanya kayak baru bisa naik sepeda.

8328739051_1361e28389_k

Gimana dengan peta? Peta offline cuma kepake dikit, sisanya tiap kali butuh ngecek, gue nempel ke wifi gratis di Starbucks terdekat. Gak beli, cuma nempel di tembok aja, nyari gratisan. Udah kayak cicak cari mangsa, gue nempel tembok tiap kali ngeliat Starbucks.

Apa yang terjadi di hari itu? di tanggal 9 September 2012?

  • Muterin Central Park naik sepeda
  • Makan hotdog di depan Guggenheim Museum (gak masuk)
  • Apple Store 5th avenue, again
  • Beli ban di deket daerah Tribeca
  • Shop visit NYC Velo, Chari and Co NYC
  • Korean Town
  • China Town
  • Madison Square Garden
  • Times Square
  • MoMa, gak masuk
  • Queensborough Bridge
  • Brooklyn Bridge

Apakah gue ke mampir ke Ground Zero (bekasnya World Trade Center)? Nggak, karena lagi ada peringatan, rame banget, I’d rather exploring the city on my bike. Ke Guggenheim, MoMa, Empire State Building? Gak masuk? Gak lah, rugi waktu, mendingan gue sepedaan ngelilingin New York. Okeh, mari kita cari tempat instagrammable berikutnya, Grand Central Station.

Setelah gowes melewati puluhan blok, gue baru sadar, kalo gue NYASAR sampe HARLEM!

Niatnya ke Grand Central Station, tapi salah belok. Perasaan mulai gak enak, kok kanan kiri orang-orangnya mulai beda. Cara ngeliatinnya beda. Cara berpakaiannya beda. Vibe nya gak enak deh. Ternyata, gue sepedaan keterusan sampe, EAST HARLEM! Konon kriminalitas tinggi lah di sana. Kalo dipikir-pikir emang gue jadi pemandangan yang aneh sih.

Orang asia, tampilan turis, naik sepeda ke daerah Harlem. Menurut ngana?

6648937721_1fc238cde0_o

Puter balik, ke Times Square lagi. Duduk aja ngeliatin susana sore berganti jadi malem. Turis pada ngantri nonton Broadway Show. Again, tadinya gue mau nonton Spiderman Broadway, tapi gak jadi, karena lagi-lagi, gue lebih memilih duduk, makan pie, nontonin orang lalu lalang, nolongin turis foto-foto, dan merambah New York dengan cara yang berbeda.

9397867609_efe8296561_o9400630632_1ca71e8bb5_o

Cape, ya iyalah, total dalam sehari itu gue sepedaan bisa sampe 60-80km. In return, gue seneng banget, karena yakin, kalo gue..

Melihat dan menikmati New York dengan cara yang gak biasa

Banyak yang belom diliat, pasti. Masih kepingin balik lagi, pasti. Gak sempet mampir ke sana sini, ya iyalah.

The point is, it’s ok to be selfish for once in a while. I highly suggest to visit places on your own pace, by your own preferences, get around by foot, on a bike, not by tour bus. Take a moment, take a breather, take that extra seconds, minutes, or hours to breathe in the moment. Be in the moment. Get lost, yes, get lost. Getting lost will help you find yourself.

1 Comment

Leave a Reply to Gipacksaputra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *