Jakarta, Teror, Hoax dan Polisi Ganteng

Jakarta, Kamis 14 Januari 2016. Jam 10.30 pagi, Jakarta kembali dibangunkan. 7 ledakan bom skala kecil dan aksi baku tembak terjadi persisi di depan gedung tempat gue bekerja. Korban berjatuhan, muncul kepanikan, dan rasa ketakutan yang meningkat. Ya tentu, gue berduka untuk mereka yang jatuh menjadi korban di pagi itu, rasa empati berlipat gak bisa gue sampaikan dengan kata-kata. Namun di balik semua itu, ada satu hal luar biasa yang gue rasakan baik di depan mata, ataupun di sosial media, entah karena sudah “terbiasa” diteror, atau tidak peduli, namun rasa takut yang dihasilkan kejadian pagi itu, tidak terlalu besar, dan tidak berlangsung lama.

6 tahun lebih yang lalu, setelah insiden Hotel JW Marriott, muncul sebuah gerakan bernama #IndonesiaUnite dengan sorakan #KamiTidakTakut. Bukan tantangan, bukan juga kepasrahan, ini sebuah seruan, bukti bahwa rakyat tetap satu dan tak gentar menghadapi apa yang sudah dan akan terjadi. Takut, pasti ada. Namun rasa waspada dan sadar untuk tetap maju lebih besar dari pada rasa takut.

Setelah kejadian Perempatan Thamrin kemarin, dalam kurun waktu kurang dari 2 jam, keadaan berhasil dinetralisir. Hoax bertebaran di media sosial. Ada yang bilang ledakan lanjutan ada di Bandung, Alam Sutra, Pondok Indah, Palmerah, dan lainnya. Ada juga berita tentang pelaku tembak melarikan diri menggunakan motor trail dan mengarah ke jalan Jendral Sudirman. Ada juga yang menyebarkan seruan untuk tidak membuat dan membuat populer hashtag PrayForJakarta dan sejenisnya, karena takut akibatnya dolar naik dan sebagainya. Sampai berita hoax lokal, bahwa ada satpam Sarinah Plaza, tempat gue bekerja, ada yang menjadi korban ledakan.

Belum lagi hoax polisi ganteng, dan foto yang beredar, ternyata salah orang.

Yang paling kesel adalah mendapatkan berita dari temannya, teman, yang katanya sodara dari bapak yang istrinya adalah tetangga istri dari brimob. Dan mengatakan info tersebut adalah valid. Gimana caranya coba? memvalidasi informasi dari pesan yang diawali “katanya si ini…” atau “katanya si itu…”.

Hoax after hoax after hoax after hoax. Entah modusnya ingin jadi malaikat pembawa berita penting, atau sekedar trigger happy menshare info yang belum tentu valid. Belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya, apa yang gue lakukan? Menyarankan temen-temen untuk tidak langsung menshare berita, foto, apapun yang berkaitan. Karena apa? begitu gue terima gambar korban ledakan, cuma satu hal yang muncul di pikiran gue,

Gambar seperti ini tidak layak dishare lebih jauh

Gue tau, hasrat ingin berbagi foto tersebut sangatlah tinggi, tapi ajegile, untung gue berhasil menahan nafsu untuk tidak berbagi. Tidak, gue tidak berada di lokasi ketika ledakan terjadi. Entah kenapa, hari itu gue dan Gofar selesai siaran jam 10, dan langsung cabut (karena Gofar mau shooting). Namun semua berita yang gue dapet adalah valid, karena apa? Dapet dari anak-anak yang sial harus kena lockdown di Sarinah, dan menyaksikan teror terjadi. Info yang gue dapet adalah sah, karena ada foto, dan pandangan langsung. Apakah gue reshare? tidak, hanyak memvalidasi keadaan dengan menjawab pertanyaan yang masuk ke whatsapp dan twitter gue.

Share the News, Not the Horror!

Belajar dari kejadian Paris, dan puluhan bahkan ratusan cerita lainnya, akhirnya rakyat Jakarta sudah cukup dewasa untuk membedakan mana hoax dan mana bukan. Mana foto yang bisa dishare, mana yang tidak layak dishare. Seperti yang gue ceritakan di atas, keadaan di lokasi berhasil dinetralisir dalam waktu 2 jam. Yang ditakutkan adalah teror yang menyebar lewat sosial media, berupa gambar, dan berita hoax. Percaya atau tidak, berhasil berganti arah dalam waktu 4 jam. Perhatian media sosial sudah beralih ke “Polisi Ganteng”, Sepatu Adidas ZX Flux Camo yang dipake petugas Bareskrim, sepatu Gucci petugas bareskrim sampe tas coach yang dipake petugas tersebut. Belum lagi puluhan meme yang muncul pada hari itu.

Sekali lagi, mungkin ada pihak yang sensitif akan adanya meme tersebut. Juga ada pihak yang merasa, “kalian harusnya takut”, atau “lebay amat kami tidak takut, karena kalian gak ngerasain langsung”. ADA. PASTI ADA. Gak usah dipusingin. Tujuan mereka adalah menyebarkan ketakutan, jelas tidak berhasil. Kurang dari 24 jam, gue pribadi, turun ke lapangan, ke tempat kejadian, untuk melihat langsung, dan live broadcast dari sana. Bukan nekat, tapi lebih karena percaya bahwa keadaan sudah aman. Tujuannya? Mengajak yang lainnya untuk tidak takut. Tapi tetap waspada.

Gue baca dengan lantang, Amanat Indonesia Unite, di opening Good Morning Hardrockers Show.

Walaupun setelah itu gue baru sadar, salah nyebutin tahun. 🙁

Yang bisa diambil dari kejadian kemarin adalah, penduduk Jakarta terbukti kuat, dan tetap bersatu menghadapi ancaman seperti kemarin. Sebagian besar dan semakin besar dari rakyat Indonesia semakin lantang mengutarakan kebencian mereka atas terorisme. Kami lebih cepat recover, kami lebih cepat beraksi dan bereaksi menggunakan logika yang sehat. Dengan berharap tidak terjadi lagi, dan (amit2) kalo kejadian lagi, reaksi rakyat akan lebih KEREN daripada yang terjadi kemarin.

Kejadian kemarin juga membuktikan, bahwa Indonesia, masih dipegang generasi baru, pewaris sah bangsa dan negara kesatuan republik Indonesia. Yang tidak kenal rasa takut. #IndonesiaUnite

Hashtag yang muncul hari itu; IndonesiaUnite, KamiTidakTakut, JakartaTidakTakut, PrayForJakarta, CheckJakarta, KamiNaksir, PolisiGanteng, dan lainnya. Gimana perasaan lo tentang hoax dan hashtags tersebut?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *