Islaniesa at Fushimi Inari Shrine

Bisa dibilang ini shrine paling gampang diakses dari stasiun utama Kyoto. Karena itu sering banget dijadiin tempat “wajib foto” buat yang mampir jalan-jalan di Kyoto.


Isla wishes for good health and prosperity. Beef prosperity McD maksudnya? Itu balok kayu sengaja dijual supaya pengunjung bisa menuliskan doa dan keinginannya dan ditinggal di tempat yang sudah disediakan.

Keluarga Pramanta. Dan stroller yang tergeletak.


  
Awal dari penanjakan yang tak berujung. Ada sih ujungnya, tapi jarang orang apalagi turis yang mau jalan sampe ujung, kecuali ada waktu lebih.

Dari sisi mendaki, tiang-tiang ini gak ada tulisannya. Dan di waktu liburan kayak gini, untuk dapetin frame “bersih” (gak ada orang lain) kayak di atas, susah. Tapi kan gue jago, jadi santai aja.


Dari sisi sebaliknya, baru ada tulisan dan ukiran.


Si Isla, dibeliin Yukata (baju casual tradisional), harganya kalo dirupiahin sekitar 250-300ribuan. Termasuk kain iket pinggang. Biar fotonya lebih asik aja, daripada beli gantungan kunci melulu. Isla juga nemu ranting, yang tadinya mau dibawa pulang, tapi kemudian patah di Tokyo. Gak jadi dibawa pulang. Padahal ampir aja jadi suvenir pung absurd.

Jalan balik ke stasiun. Kanan kiri banyak banget jajanan. Kita cuma ngabisin waktu 2 jam di sana, karena harus balik ke Tokyo hari itu juga.


But first, snack.


Second, coffee.


Nyokap. Udah kesekian kali ke Jepang, tapi biasanya cuma ke daerah pelabuhan doang. Nemenin almarhum bokap yang urusannya sama kapal laut.

Isla, anak gue. Dan Nona, keponakan. Beda 9 bulan, dua-duanya pake Yukata biar gak berantem. Baju Jepang, muke Padang.


Di Kyoto gak sampe 6 jam, tapi gue dan Deasy jatuh cinta. Gue harus balik lagi ke sana, naik sepeda. Karena bentuk kotanya masih lebih humanis ketimbang Tokyo.  Lebih ngangenin dan bikin penasaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *