Idea is not always the best place to start

Banyak hal diawali dari sebuah ide. Entah itu bisnis, event, show atau apapun itu. Nggak ada yang salah dari hal itu. Yang gawat adalah ketika seseorang punya ide, jatuh cinta sama idenya, posesif, dan nggak di share (kebanyakan alasannya adalah, takut idenya dicuri orang lain). Yang jauh lebih gawat adalah ketika, dia menjadi buta, ibarat cinta, bodo amat apa kata orang, tapi ide ini keren, belom pernah ada, gak ada duanya (permisi Toyota Kijang, saya pinjem taglinenya), dan kemudian dia berasumsi bahwa ide tersebut pasti sukses tanpa cela. Kenapa gawat? Karena itu asumsi lo, bahwa ide itu super canggih. Jadi gimana dong? Markijut, mari kita lanjut.

Di program Seal The Deal, HardRock FM hari ini, gue belajar hal baru dari @donipriliandi, @mrtampi, dan @dondihananto. Belajar bahwa “asumsi” itu bisa menyesatkan. “Asumsi” sendiri, tidaklah valid. Pernah nggak, lo memberikan sesuatu sama pasangan lo, yang menurut lo “ini keren banget, dia pasti suka”, tapi waktu dikasih, responnya “biasa aja”? This is clearly a #soriloapes moment (lebih apes lagi kalo lo mengeluarkan uang banyak buat barang tersebut). Atau punya ide brilian untuk membuat sebuah produk, dengan asumsi produk tersebut pasti laku … menurut diri lo sendiri. “Ide ini sangat brilian”, dalam hati. Percuma lo bikin produk yang keren banget, tapi kalo gak ada yang beli. Gak ada target marketnya, atau target marketnya terlalu luas.

Balik sebentar soal Ide. Gue punya pegangan

, bahwa “Ideas are not yours, until you do something about them”. Iris kuping temen siaran gue (maaf ya @pergijauh), yang punya ide di kepala lo itu, nggak cuma satu orang. Berita baiknya adalah, walaupun idenya sama, kalo dieksekusi sama dua orang yang berbeda, hasilnya pasti juga akan berbeda. So stop bitchin’ “that idea is mine”, idea is free. Sama gratisnya kayak masalah. Masalah itu seperti warisan, ada aja, tapi apa yang mau lo lakukan dengan warisan tersebut? Nah ini bisa jadi starting point yang jauh lebih menarik. Baca masalahnya, cari solusinya. Tanya, dengarkan, SIMAK baik-baik. Dari situ yang namanya Target Market bisa ditemukan, cari solusi melalui ide. Nah tu dia, idenya baru akan brilian kalo munculnya belakangan (macam di film, jagoan datengnya belakangan).

Mengingat kata career coach @renecc, “find your holy discontent, do something about it, you might find your true passion along the way”. So, if idea is not the best place to start, where is it? Problem is where we should start. Di situlah target market berada. Ada masalah, ada ide, ada aksi, dan ada solusi.

Inget film kartun Doraemon? Setiap hari minggu jutaan anak kecil duduk manis di depan tv, rambut basah sehabis mandi, muke celemongan bedak, mulut bau sop, nungguin Doraemon muncul. Pernah nggak Doraemon ngeluarin Pintu Ajaib di awal cerita? hampir gak pernah. Tunggu sampe Nobita di bully Giant dan Suneo, atau dia dapet masalah, baru deh Doraemon rogoh-rogoh kantong ajaib dan ngeluarin Pintu Ajaib (atau gadget-gadget lainnya).

Bukan contoh yang baik, tapi seperti itulah gambarannya. Put your great ideas aside, and start somewhere else for once.

(btw, gue nulis postingan ini dua kali. yang pertama gak ke save, yang pertama tadi lebih alus kayaknya, but I had to get this out of my head. *pasang Kylie Minogue cant get you out of my head)

———–
Seal The Deal adalah program 1 jam, di 87,6 Hard Rock FM Drive n Jive, setiap hari Selasa jam 7-8 malam.
Postingan tertanggal 30 Januari 2013

2 Comments

  1. Nggak bisa lebih setuju lagi dari pernyataan ini.

    Gue beberapa kali ngomong ke anak-anak kantor: masalah banjir di Jakarta itu pasti dateng tiap tahun, tp coba browse aplikasi tentang banjir di Play Store atau App Store. Dikit banget (tahun lalu malah nggak ada).

    Start with solving a problem. Masalah orang lain ya, bukan masalah diri sendiri. Semakin banyak orang yg masalahnya diberesin semakin baik.

    Ada masalah, cari idenya. Bukan ada idenya, dicari masalahnya. Yg terakhir itu cuman cari masalah namanya.

    1. andiraa

      kalo sekarang? udah ada aplikasinya belom?
      dan muncul masalah baru lagi nih, para wakil rakyat pada kurang piknik. bikin aplikasi apa ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *