So Long, Good Morning Hardrockers Show (Videos)

Leaving a show is one thing, but leaving a building is another thing.

1 year in the morning show.
4 years in the afternoon show.
2 years in any other shows.
7 years of high times.

It is time, for me to take a step back, to go forward. Thank you all. Again, leaving a show is one thing, but leaving a building is another thing. It’s not just goodbye to GMHR, but goodbye to Hardrock FM. For those who is wandering where am I going to broadcast next, I’m taking months off. Until September. 🙂

 

Terima Kasih Gofar

Seminggu lebih, gak upload video karena komputer hardisknya lagi error, ada kemungkinan data 850GB hilang semua (amit-amit mudah2an gak kejadian). 850GB cuy, kerjaan, foto liburan, video liburan dalam 4 tahun terakhir semuanya ada di situ. Ada sih beberapa yang udah di-backup di tempat lain.

Seminggu lebih, pensiun dari Good Morning Hardrockers Show di Hardrock FM. Ini yang paling berasa. Apalagi dibikinin video sama Gofar “pergijauh” Hilman, yang adalah partner siaran terbaik sejauh ini. Ya, gue masih berhutang untuk bercerita apa yang terjadi sama GMHR, dan hidup gue setelah siaran di GMHR.

Sementara nunggu komputer selesai, mari saksikan video persembahan adek Gofar, dari Desa Nanggewer (tempat nyokapnya).

Dear Blog, I Am Sorry

Dear blog, my blog to be exact.

Sorry I’ve been neglecting you for more than 3 months. I’ve been too busy, having fun with my YouTube posts. I know, I should’ve cross post my videos through you. I’m sorry for that.

Yes, I am also sorry that I didn’t notice that you’ve been offline for quite some time, malware? Luckily I have some friends to work things out with you, and now you’re back online!

No. I will not leave you behind, I have tons of plans. For now, let me post this…err…post. And leave you with the latest video post.

Andirdor, Las Vegas dan CES 2016

Menutup 2015 dengan ikutan Astronaut Training Experience di NASA, Orlando menjadi satu highlight dalam hidup gue. Gak berenti di situ, Alhamdulillah, gue diijinkan untuk memulai 2016 dengan sesuatu yang gak kalah seru.

I started 2016 with a big bang!

Sebut saja @sheggario, yang me-refer nama gue dan Pandji ke Lenovo. Akhirnya gue berangkat dalam misi mencoret satu list dari bucket list, yaitu pergi ke salah satu pameran elektronik terbesar tahunan di dunia, Consumer Electronic Show 2016 di Las Vegas. Perjalanan yang cukup jauh, mengingat gue, Pandji, mas Eri (Lenovo), Erry (infokomputer), Kris (yangcanggih.com) dan Takai (kompas.com) harus terbang dari Jakarta – Abu Dhabi – New York – Las Vegas. Belum lagi rasa berat meninggalkan Deasy dan Isla yang lagi libur sekolah, ya untung banget punya keluarga yang justru mengijinkan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Ya. Belakangan ini gue lebih banyak medokumentasikan banyak hal lewat video, lewat video blog. Karena merasa bukan penulis yang baik dan mudah dimengerti, akhirnya gue memilih jalan itu. Vegas trip ini terekam menjadi banyak bagian.

Banyak yang gue temukan di perjalanan kali ini. Dari perjalanan yang melelahkan tapi rewarding, bertemu dengan orang-orang keren dari Lenovo, melihat produk-produk yang menggiurkan dari Lenovo, juga dari exhibitor lainnya, nonton Cirque du Soleil, kedinginan di Las Vegas, melihat salju pertama kali secara langsung di Grand Canyon, sampe ketinggalan pesawat pulang ke Indonesia.

Great Company Culture = Good Products

Bikin produk canggih itu satu hal, tapi bikin produk super keren itu jauh lebih susah. Pengetahuan gue tentang Lenovo sangat minim, tapi di akhir trip ini gue mendapatkan fakta bahwa semua produk Lenovo itu hadir dari company culture yang keren. Setiap orang Lenovo yang gue temuin dan dengerin keynotenya, memiliki semangat yang sama. Creative, consumer driven, dan innovative. Tidak melupakan bahwa Lenovo ini adalah perusahaan yang mengakuisisi IBM dan Motorola (yang sekarang namanya tinggal Moto doang).

Ngeces di CES

Belum lagi fakta di mana gue mendapatkan kesempatan pertama megang-megangin product line Lenovo untuk 2016. Hampir semua produknya menggiurkan, bikin ngeces. Dari lini ThinkPad X1 (carbon, yoga, tablet, all-in-one desktop), Yoga 900S (liat watchband hinge nya yang keren banget), tablet lineupnya yang keceh (terutama tab 3 pro, yang ada build in projector-nya), telpon/tablet Phablet, Lenovo Vibe X3, Vibe S1, Moto360, Moto360 Sport, dan Moto X Force yang shattered proof. Ngeces ces ces.

Blog ini akan terus gue update perlahan dengan video dan foto-foto dari Vegas trip kemaren, tapi sebagian besar video bisa liat di ANDIRDOR VLOG.

(Foto dari Lenovo)

Jakarta, Teror, Hoax dan Polisi Ganteng

Jakarta, Kamis 14 Januari 2016. Jam 10.30 pagi, Jakarta kembali dibangunkan. 7 ledakan bom skala kecil dan aksi baku tembak terjadi persisi di depan gedung tempat gue bekerja. Korban berjatuhan, muncul kepanikan, dan rasa ketakutan yang meningkat. Ya tentu, gue berduka untuk mereka yang jatuh menjadi korban di pagi itu, rasa empati berlipat gak bisa gue sampaikan dengan kata-kata. Namun di balik semua itu, ada satu hal luar biasa yang gue rasakan baik di depan mata, ataupun di sosial media, entah karena sudah “terbiasa” diteror, atau tidak peduli, namun rasa takut yang dihasilkan kejadian pagi itu, tidak terlalu besar, dan tidak berlangsung lama.

Read More

New York, New York. On saddle.

“These vagabond shoes, are longing to stray
Right through the very heart of it, New York, New York”

Mendengarkan lagu Frank Sinatra “New York, New York” ketika pesawat mau mendarat di JFK. Semacam list di dalam bucket list gue yang harus dituntaskan. Karena gue inget banget, almarhum bokap pernah cerita kalo dia

Read More

Idea is not always the best place to start

Banyak hal diawali dari sebuah ide. Entah itu bisnis, event, show atau apapun itu. Nggak ada yang salah dari hal itu. Yang gawat adalah ketika seseorang punya ide, jatuh cinta sama idenya, posesif, dan nggak di share (kebanyakan alasannya adalah, takut idenya dicuri orang lain). Yang jauh lebih gawat adalah ketika, dia menjadi buta, ibarat cinta, bodo amat apa kata orang, tapi ide ini keren, belom pernah ada, gak ada duanya (permisi Toyota Kijang, saya pinjem taglinenya), dan kemudian dia berasumsi bahwa ide tersebut pasti sukses tanpa cela. Kenapa gawat? Karena itu asumsi lo, bahwa ide itu super canggih. Jadi gimana dong? Markijut, mari kita lanjut.

Di program Seal The Deal, HardRock FM hari ini, gue belajar hal baru dari @donipriliandi, @mrtampi, dan @dondihananto. Belajar bahwa “asumsi” itu bisa menyesatkan. “Asumsi” sendiri, tidaklah valid. Pernah nggak, lo memberikan sesuatu sama pasangan lo, yang menurut lo “ini keren banget, dia pasti suka”, tapi waktu dikasih, responnya “biasa aja”? This is clearly a #soriloapes moment (lebih apes lagi kalo lo mengeluarkan uang banyak buat barang tersebut). Atau punya ide brilian untuk membuat sebuah produk, dengan asumsi produk tersebut pasti laku … menurut diri lo sendiri. “Ide ini sangat brilian”, dalam hati. Percuma lo bikin produk yang keren banget, tapi kalo gak ada yang beli. Gak ada target marketnya, atau target marketnya terlalu luas.

Balik sebentar soal Ide. Gue punya pegangan

Read More

Andira Ketemu Andira

Gue punya bucket list yang berisikan hal-hal yang harus gue lakukan/coba sebelum waktu gue habis. Dengan bangga gue umumin, bahwa Senin, tanggal 12 November 2012, satu hal di list tersebut, terwujud.

Setelah 27 tahun gue hidup (cuma beberapa orang yang tau gue bo’ong), akhirnya gue bertemu sama seseorang yang bernama sama kaak gue, Andira.

Ketemu sama orang yang namanya ANDIRA.

Kalo buat elo ini hal yang biasa, ya iyalah, nama lo pasaran! Agus, Budi, Nina, Tia, Aisya, Dessy, Deasy, Daisy, Dessi, Anton, Irfan, Bambang (tanpa mengurangi rasa hormat, Pak!), … gue yakin hampir semua nama-nama yang gue sebut, gak akan pernah punya rasa penasaran yang sama kayak gue.

“Andira tu kayak nama perempuan”, banyak yang bilang. Terus gue jawab “Mana orangnya! Kenalin ke gue!”, dan mereka pun gagal. Pernah ge’eran, kenalan sama orang di kampus tempat gue kuliah dulu, ngobrol panjang (karena gue dengernya dia bernama Andira). Setengah jam kemudian dia baru bilang, “emm…sorry, tapi nama gue Andina”. Andina woy Andina! Kuping apa ceret Ndir!

Intinya.
Gue BELOM pernah ketemu sama orang yang namanya ANDIRA.
Gue PENASARAN ketemu sama orang yang namanya ANDIRA.

Tiba-tiba di playlist radio HardRock FM Jakarta (tempat gue siaran, tiap weekdays jam 4-9malem, nama acaranya Drive ‘N Jive, iklan dikit kakaaak), muncul lagu berjudul “Enyah”, nama penyanyinya Andira. “Kapan gue pernah bikin lagu?” kalo pun gue bikin lagu, pasti gak mungkin masuk HardRock juga, karena pasti terdengar melayu. Gue pun lebih ngincer lagu gue masuk jadi soundtrack sinetron. Satu lagu aja, masuk sinetron, *kaching! jualan CD di tempat jual ayam. kelar. yak. gak fokus.

Balik lagi ke Andira, si sosok misterius yang menyanyikan lagu “Enyah”. Abis itu gue gak sengaja “stalking” (stalking kok sengaja), nemu twitter username @andira_83 . NAH INI DIA ANAKNYA! Tau-tau, tanggal 12 November 2012, anaknya muncul di lantai 8 Sarinah Thamrin, untuk ke Trax FM. Diculik ke HardRock FM untuk kebutuhan video online, akhirnya Ine, sang videographer manggil gue “Andira, kenalin … Andira”.

Terkejut dan Terharu.

Bertukar cerita. Si Andira gak pernah ketemu sama yang namanya Andira juga. Tapi dia gak sepeneasaran gue sih. Andira juga pernah sebel dipanggil “Ndir”, emangnya lendir? Andira juga suka dipanggil “Ndi”. Andira juga pernah dipanggil “Dira”. Walaupun Andira nggak pernah dipanggil nama “An”, itu paling aneh sik.

Singkat kata. “Bahagia itu sederhana” moment. Senang berkenalan dengan Andira. Follow dia di @andira_83 , denger singlenya yang berjudul “Enyah”.

Ada “Karya” dalam “Karyawan”

Artikel dari tumblr. 16 May 2013.
Judul asli:
Passion + Supportive environment = Legacy?
Inti dari CareerCoach hari ini di Drive N Jive.

Karyawan is a strong word. Ada kata KARYA di dalamnya. Mestinya orang yg menyandang status karyawan diberi ruang untuk berkarya, bukan sekedar jalanin jobdesc.

Bagaimana caranya bisa berkarya? Pertama harus cari dulu passionnya. Kalo udah tau, otomatis akan bekerja sesuai passionnya. Sampe titik ini sebenernya yang namanya bekerja mestinya udah effortless, gak berasa kerja. Hasilnya? Karya.

Tapi lebih keren lagi kalo wadah tempat kerjanya suportif dan respect terhadap karyawannya. Room for improvement so they say. Dengan cara ini, gak cuma kerjaan kelar, tapi juga menciptakan karya yang bisa dibanggain.

Singkatnya mungkin begini:
Passion + supportive environment = Karya (tangible or non-tangible).

This leads to happy effortless work-life.

Kurang lebih gitu. Your two cents?

Senyumlah, Indonesia

Bagaimana mau kerja kalo sibuk cari salah siapa?
Bagaimana mau besar kalo sibuk merasa kecil?
Bagaimana mau mulai kalo sibuk saling tunggu?

Bagaimana mau maju kalo cemberut terus.

Hal termudah yang bisa buat Indonesia maju, adalah dengan bersenyum.

Dirgahayu Indonesia ke-70.