Sebuah Penyesalan?

Kena tulah nih gue. Siapa sih yang nggak tau mantra “Mending nyesel beli, daripada nyesel nggak beli”? Itu adalah mantra yang sering digunakan ketika kita berhadapan langsung dengan sebuak benda yang membuat lo berpikir lama “beli? Jangan? Beli? Jangan?”. Ketika kepala kita dipenuhi banyak justifikasi yang membenarkan keadaan dan mendorong kita untuk membeli barang tersebut. Kalo beli, takut nyesel gak kepake. Tapi kalo nggak beli, takut nyesel melewatkan kesempatan.

Mending nyesel beli, dari pada nyesel nggak beli

Sebagai contoh, mungkin yang doyan sama sneakers tau betul situasi berikut ini. Kita lagi jalan-jalan ke luar negeri. Padahal waktu berangkat dari Jakarta, kita nggak berniat untuk beli sepatu. Tiba-tiba, jreng, dengan misteriusnya kita berada di dalam took sepatu. Kemudian tangan ini mulai mengambil sepasang sepatu yang baru rilis, kemudian meminta size kita untuk dicoba, kemudian di foto. “Bagus juga ya, eh tapi kan gue gak nyari sepatu. Tapi di Jakarta ini nggak ada”. Nggak lama kemudian, keluar toko bawa kantongan.

Yes. Mending nyesel beli, dari pada nyesel nggak beli. Karena kalo beli, terus gak kepake, at least bisa dijual lagi. Siapa yang pernah beli sepatu dengan justifikasi seperti itu? Angkat tangannya. Apa jadinya misalnya kita memutuskan untuk nggak beli, dan langsung pulang.

Tau gitu kemaren gue beli ya. Nyesel gue.

Amit-amit jangan sampe. Namanya juga penyesalan, datengnya belakangan. Kayak yang kejadian sama gue baru-baru ini. Inget waktu kemaren gue hands on HP Ultrabook Spectre X 360? Nah, beberapa minggu kemudian, gue masih kepikiran tuh segala macem kecanggihannya. Ditambah lagi justifikasi bahwa gue lagi perlu banget yang namanya laptop yang mumpuni buat ngedit dalam keadaan mobile, spec canggih tapi bentuknya gak malu-maluin. Operating System? Gue udah gak terlalu masalah switching back and forth ke windows. Karena Microsoft Windows 10 sekarang, sudah jauh lebih intuitive dan user interfacenya juga jauh membaik. Semua aplikasi keseharian yang gue perluin seperti Microsoft Office dan Adobe berjalan tanpa masalah.

Lucunya ketika kita sudah membulatkan keputusan untuk membeli sesuatu, apalagi yang harganya tidak tergolong murah, pasti ada saja alasan yang menahan kita untuk tidak melakukan pembelian. Namun, kalo dipikir lagi, ada satu hal terakhir yang bisa “menenangkan” kita dalam mengambil keputusan. “Seal of approval” atau bahasa marketingnya “jaminan mutu”.

Tunggu sebentar. Apa sih yang kita cari dari sebuah laptop?

Fungsinya? Desainnya? Fiturnya? Harganya? Sudah pasti gabungan dari itu semua. Tetapi ketika ditambah satu faktor lagi, yaitu merk yang sudah familiar dan punya sejarah panjang, maka keraguan semakin tipis, iya? Tidak? Hampir yakin nih gue untuk menghadiahi diri sendiri sebuah laptop yang kece. Ya minimal kayak HP Ultrabook Spectre X 360 lah. Amin.

Buat kerja kok, ya main juga lah. Apapun alasannya. Coba gue pasang dulu gambarnya di bawah. Ada bocoran harganya, biar setiap kali gue baca postingan blog yang satu ini, gue tau harus menyisihkan uang berapa. Ya Tuhan, cairkan lah invoice kami, tepat pada waktunya.

1 Comment

  1. yah sama… baruan aku pengen beli gimbal harganya murah eh udah abis :(( nyesel gak beli semalem..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *