Kalian semua suci, aku penuh dengan dosa

Untuk pertama kalinya, selesai sholat Jum’at gue menghampiri Ustadz yang kasih ceramah di mesjid deket rumah, dan mengucapkan terima kasih untuk Khotbahnya yang keren. Khotbahnya sungguh sangat simpel, tapi gue mendengarkan dengan penuh hati.  Khotbah Jum’at kali ini sungguh sangat anti-mainstream. Kenapa anti-mainstream?

Khotbah kali ini sama sekali gak ngomongin soal penistaan agama ataupun Pilkada.

Ya memang sih rumah gue daerah Tangerang Selatan, tapi Jum’at sebelumnya pastilah menyinggung kalo gak kofar kafir, penistaan agama, Pilkada, perbedaan etnis, dan hal lainnya yang lagi sering disuarakan penceramah. Gue mencari pencerahan di setiap khotbah. Gue butuh khotbah yang bisa bikin gue mikir banyak untuk memperbaiki agama gue sendiri, kalo orang lain terserah lah, gue hanya bisa mengingatkan gak bisa memaksa (kayak yang paling bener aja).

Khotbah tadi disampaikan dengan tenang, tidak teriak-teriak sampe merusak pita suara atau sound system mesjid. Apalagi sampe emosi dan dengan nada marah. Bahkan lebih terdengar sebagai orasi ketimbang ceramah.

Khotbah tadi poinnya sangat jelas. Bagaimana kita bisa memperbaiki diri sendiri, sesuai dengan kemampuan diri masing-masing. Belajar beribadah tepat pada waktunya, megucapkan kalimat yang tepat pada waktunya, dan membaca Al Quran…walau 1 ayat per hari. Tidak dipaksa meniru contoh Rasulullah yang jelas nyaris sempurna. Sesuai kemampuan diri sendiri, penting itu.

Khotbah tadi nggak nakut-nakutin. Tau dong, khotbah yang nakut-nakutin? Yang disebut terus menerus adalah “dosa”, “haram”, dan “neraka”. Hal tersebut, terutama buat anak kecil menumbuhkan rasa takut (menurut gue ya). Khotbah tadi, lebih banyak menunjukkan hal simpel untuk meraih “pahala”, “apa yang baik” dan “surga”. Kan enak dengernya, pulang dengan alis naik, bukan merengut karena merasa dosa.

Ada khotbah yang bikin kita ngerasa “Kalian semua suci, aku penuh dengan dosa”

Intinya sih, terima kasih atas khotbahnya yang memberikan gue pencerahan untuk bergerak untuk menjadi umat yang lebih baik sesuai dengan kemampuan diri sendiri. Karena agama adalah kepercayaan, kalo sampe nakut-nakutin melulu, gimana orang mau seneng jalaninnya? Tapi ini gue, pasti ada yang gak setuju, gak papa. Itulah indahnya perbedaan, ijinkan saya menjalankan kepercayaan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *